Uncategorized

Menelisik Sejarah Masjid Azizi Tanjung Pura

Masjid Azizi adalah sebuah bangunan masjid yang mana masjid ini menjadi sebuah ikon kerajaan ini khusus nya di Sumatera Utara. Di antara mereka adalah Tjong A Fie, seorang Cina yang dikenal luas sebagai pedagang Deli yang sukses.

Sampai sekarang, masjid ini masih digunakan untuk beribadah dan berdoa bagi umat Islam setiap hari. Luas pembangunan masjid sekitar 5.000 m2 dan dibangun di atas lahan seluas 18.000 m2.

Menelisik Sejarah Masjid Azizi Tanjung Pura

Selain halaman, Masjid as-Syakirin juga memiliki beranda, aula besar untuk sholat, menara dan cuci. Jika Anda mencermati, konsep bangunan utama dan sayap adalah gaya masjid tua di Timur Tengah.

Pilar yang mendukung Kubah Masjid yang utama dapat ditemukan di bagian luar ruangan masjid ini,serta terdapat sebuah lukisan khas Arab yang ada di ruangan utama tempat para jamaah berdoa. Masjid Raya Al-Mashun dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam.

Masjid, ikon pariwisata kota Medan, sangat indah dengan arsitektur khas gaya Timur Tengah, India, dan Spanyol. Masjid Agung Medan, yang dikenal sebagai Masjid Agung Al-Mashun, adalah salah satu bangunan tertua di kota Medan. Selain itu, masjid ini selalu dikenal sebagai landmark penting dari ibukota provinsi Sumatera Utara.

Untuk membangun Masjid al-Mashun, banyak dekorasi yang diimpor dari luar negeri, seperti marmer Italia, kaca patri dari Cina dan lampu gantung dari Pran cis. Setiap ornamen dihiasi dengan ukiran indah dengan motif bunga atau geometris.

Area pembangunan masjid meliputi 5.000 meter persegi dan dibangun di atas area dengan luas meter persegi. Pembangunan Masjid Agung memakan waktu 3 tahun, dari 21 Agustus 1906 hingga 19 September 1909.

Keindahan Masjid Agung al-Mashun tercermin tidak hanya di bangunan fisik, tetapi juga bagaimana proyek konstruksi berlangsung. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, tempat ibadah ini dibangun dengan dukungan Sultan Deli.

Pembangunan masjid ini memakan waktu 3 tahun, dari 21 Agustus 1906 hingga 19 September 1909. Masjid ini berusia lebih dari 1 abad dan merupakan salah satu bangunan tertua di Medan.

Masjid ini masih digunakan oleh umat Islam untuk beribadah dan berdoa setiap hari. Masjid Al-Mashun terletak di Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara. Warisan Sultan Deli di Sumatera Utara, Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam memiliki nilai sejarah tinggi dan sangat monumental.

Sebuah sumber mengatakan perusahaan perkebunan itu menyumbang sekitar sepertiga dari total biaya yang diperlukan untuk membangun Masjid Agung al-Mashun.

Fakta ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang saling mendukung antara Kesultanan Deli dan pengusaha yang melakukan bisnis di negara ini, terlepas dari perbedaan agama dan etnis.

Pada tahun 1992, masyarakat menjalankan program swadaya untuk memulihkan masjid. Bangunan ini memiliki luas 20 x 22 meter dengan denah persegi panjang.

Masjid, yang merupakan masjid kerajaan, berdiri di atas lantai batu bata yang tertata rapi, seluas sekitar 900m2, dan memiliki dua lantai dengan dinding dan gerbang besi yang mengelilinginya.

Pemeliharaan dan pengelolaan masjid dilakukan oleh keturunan Sultan Deli dan masyarakat di sekitar masjid. Sangat sering masjid di Indonesia, dalam bentuk candi atau candi.

Bekas kerajaan yang masih terlihat sampai sekarang adalah struktur bata merah dan lahan yang luas.

Interior masjid Azizi Kota Langkat ini juga pernah di supremasi dengan balutan warna emas, lalu pada bagian keempat pilar besarnya, serta pilar-pilar yang menuju ke atap langit langit sampai sisi mihrabnya, dipadukan juga dengan pemakaian warna basic putih. 

Ornament ini lumayan menarik sebab tidak di ketemukan di masjid lain di khususnya di provinsi Sumatera Utara