Uncategorized

Sejarah Masjid Agung Kraton Surakarta Hadiningrat

Selama PB X, 1901, masjid disempurnakan oleh pembangunan gerbang dan menara yang berfungsi untuk memanggil orang untuk shalat (adzan). Berbarengan dengan momentum peringatan Nuzulul Quran, Senin (14/7), manajemen Takmir Masjid Agung Surakarta meluncurkan sejarah Masjid Agung Surakarta.

Sejarah Masjid Agung Kraton Surakarta Hadiningrat

Redputih.com berusaha mengungkap sejarah salah satu masjid tertua di Indonesia dan pada Senin (13/6) berusaha untuk mengepalai Departemen Konservasi dan Bangunan Warisan Budaya Perencanaan Tata Ruang Kota (DTRK) dari Rencana Tata Ruang Kota (DTRK) ).

Baca Juga: Destinasi Wisata Masjid Di Kota Kendari

Masjid Agung dibangun pada Paku Buwono (PB) III, pada tahun 1757. Seiring waktu, masjid diperbaiki dan direnovasi pada tahun 1786 dan 1828.

Diadakan di teras Masjid Agung, acara peluncuran dihadiri oleh beberapa tokoh. Didirikan pada 1546 pada masa Kerajaan Pajang, jauh sebelum Surakarta (1745M) didirikan, Masjid Laweyan Solo diminta menjadi masjid tertua. Menurut presiden Masjid Takmir Laweyan, Achmad Sulaiman, di kerajaan Pajang sekitar tahun 1546, pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya, sebuah kuil dibangun untuk pemujaan Hindu di Pajang, Laweyan. Bangunan Masjid Laweyan terdiri dari 12 tiang masjid yang terbuat dari kayu jati dan ada drum dan kentongan yang berusia ratusan tahun.

Masjid Laweyan menyatu dengan kompleks budaya makam Ki Ageng Henis yang merupakan penasihat kerajaan Pajang. Di masjid ini ada 3 koridor di masjid yang menggambarkan Islam, agama dan ihsan. Di sebelah timur, ada gerbang masjid berbentuk piramida yang dihiasi dengan arsitektur Arab. Gerbang ini berasal dari kata Arab “ghafura”, yang berarti Anda akan dimaafkan atas kesalahannya.

Beranda kanan digunakan terutama untuk wanita atau keputren dan beranda kiri adalah perpanjangan dari doa kota. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan untuk pernikahan, musyawarah dan makam. Selain itu, ada menara yang digunakan untuk mengulangi panggilan sholat. Menara ini dibangun pada Mangkunegara VII. Al Wustho bernama pada tahun 1949 dari kepala Kuil Mangkunegaran. Dikutip dari Republika.co.id (8/2/2018), di Surakarta ada sejumlah masjid tua yang menjadi saksi penyebaran Islam di kota budaya.

Di atas gerbang ada kaligrafi doa masuk dan keluar dari masjid yang sangat indah diukir pada jati dengan simbol mahkota dan jam besar. Mustaka atau mahkota masjid baru dibangun pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono IV ().

Lapisan emas digantikan dengan logam kuat di Saka 1843. Penambahan berikut dilakukan oleh Pakubuwono X. Pakubuwono membangun menara di sekitar masjid dan jam matahari untuk menentukan waktu shalat.

Hingga saat ini, masjid-masjid tersebut masih dipertahankan dan digunakan untuk ibadah sehari-hari. Selain nilai historisnya yang tinggi, masjid tua di Solo juga memiliki nilai penting dalam dakwah. Salah satu kekhasan Masjid Laweyan adalah bahwa itu adalah kuil Hindu.

Awalnya, mustaka dibuat dari lapisan emas murni seberat 7,68 kg seharga 192 ringgit. Bentuknya berbeda dari masjid-masjid lain yang biasanya didekorasi dengan bulan sabit dan bintang.

Karena masjid ini dimiliki oleh Istana Kasunanan Surakarta, semua pegawai masjid ditunjuk sebagai pegawai istana istana, dengan gelar seperti Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (untuk kepala) dan Kepala Desa Muadzin untuk panggilan sholat.

Setelah itu, Anda bisa berjalan sekitar 6 menit untuk sampai ke Masjid Laweyan. Parangraja Hotel Solo menawarkan layanan yang ramah dan fasilitas modern.